Open top menu

Mengelola usaha industri kreatif, terutama produk usaha yang bersinggungan dengan seni-budaya, tidak saja membutuhkan keuletan dan kesabaran, tetapi juga dibutuhkan strategi usaha dan jejaring. Terlebih jika melihat kontur budaya di Cilegon, dimana jenis usaha industri kreatif masih kurang diminati oleh masyarakatnya—kalah populis dibandingkan  memilih menjadi pengusaha, kontraktor  atau karyawan pabrik.
Padahal jika kita merespon MEA, salah satu pilar yang dapat dikelola pada tingkat kreatifitas—industry kreatif menjadi salah satu bangunan penting bagi kesiapan SDM lokal dalam mengelola potensi dan karakter kelokanannya—salah satunya membangun identitas kelokalan dengan ndalemi usaha di bidang produk –produk kesenian-kebudayaan.

Batik Krakatao, sebagi salah satu dari industri kreatif yang menghusukan pada produksi batik lokal, mencoba merespon kondisi tersebut menjadi potensi usaha sekaligus mengangkat potensi budaya lokal. Selain motif  batik dengan tema-tema lokal, pola management pemasaran dan produksi menjadi  startegi yang patut untuk diberikan apresiasi.
Sebagai contoh, selain banyaknya pemesana motof batik lokal dengan variannya—Batik Krakatoa kerap mendapatkan tawaran program CSR dari beberapa perusahaan besar. Menurut pengelola Batik Krakatoa, Firmansyah Mochtar, respon positif ini turut mengangkat  nilai-nilai kearifan lokal dan Kota Cilegon, dan kehadiran industri kreatif milik  H. Helldy Agustian yang kini tengah dikelolanya menjadi salah satu penghantar untuk merespon kearah tersebut.

“Respon masyarakat terhadap kehadiran Batik Krakatoa menarik untuk diapresiasi,  termasuk kehadiran kami di Istana Negara beberapa waktu yang lalu. Saya selalu ingin berbagi dengan kawan-kawan seniman budayawan, termasuk dengan para penggiat industri kreatif di bidang seni budaya, bahwa potensi usaha di bidang ini menarik untuk dikelola dan diseriusi. Tentunya masih banyak produk seni budaya yang  belum terkelola di Cilegon.” tuturnya kepada RR Online.

Untuk menghantarkan kerja-kerja kebudayaan tampaknya tidak saja dapat dilakukan melalui seminar, kajian, pementasan atau even-even kesenian-kebudayaan, mengelola potensi kearifan lokal sebagi sebuah bidang usaha dan profesi menjadi penting untuk digeluti—tanpa menghilangkan nilai identitas dan kearifan di dalamnya.
“Bekerja sambil berkarya, berkarya sambil bekerja.” Pungkasnya. (sumber RR Online)

Tagged
Different Themes
Hj. Hany Seviantry

Pembina Sanggar Batik Krakatoa mengatakan, batik merupakan salah satu keariafan lokal yang harus dimiliki oleh masyarakat Cilegon. "Kata siapa wong Cilegon tidak punya batik, untuk itu sanggar batik ini kami dirikan sebagai salah satu budaya lokal yang akan kami perkenalkan kepada masyarakat"

This is the most recent post.
Posting Lama