Open top menu

Berdasarkan sejarah, batik telah mulai dikenal sejak jaman Majapahit dan masa penyebaran Islam di nusantara. Awalnya, Batik dibuat terbatas oleh kalangan keraton yang dipakai oleh raja dan keluarga serta pengikutnya atau abdi dalem. Seiring runtuhnya kerajaan-kerajaan nusantara, batik di bawa keluar keraton dan berkembang hingga kini menjadi salah satu warisan budaya bangsa. M Sofiyan – Cilegon Berangkat dari cita-cita melestarikan warisan sejarah dan budaya bangsa itulah, Hany Seviantry membangun Sanggar Batik Krakatoa. Sanggar batik yang berlokasi di Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon ini, merekrut kalangan perempuan, mulai dari remaja, ibu rumah tangga hingga nenek-nenek. Dijelaskan Hany, ia memberikan pelatihan membatik kepada kaum perempuan di Cilegon. Pelatihan diberikan oleh instruktur batik dari Cirebon, kota yang terkenal dengan perajin batik. “Setelah mereka bisa, kemudian kami memproduksi batik dengan gambar yang bermotif Banten,” kata Hany, Rabu (28/1). Batik Krakatoa memiliki puluhan motif yang bisa dibilang unik. Semua motifnya digambar dari kearifan lokal yang berkembang di Kota Cilegon. Sebut saja motif sate bebek Cibeber, ani-ani padi, godong kestela, kelotoh, Masjid Agung Nurul Ikhlas, trisula, kue engkak, Gunung Krakatau, kue gipang, serta sate bandeng. “Ciri khas kuliner Banten dan nama temoat bersejarah di Banten inilah yang kami harapkan bisa ikut membantu menyosialisasikan dunia pariwisata Banten di masyarakat luar. Sehingga ketika ada wisatawan yang datang kesini, bisa membeli cinderamata batik khas Banten,” tutur istri dari pengusaha mudai di Cilegon Helldy Agustian ini. Hal yang membanggakan bagi Hany dengan membangun Sanggar Batik Krakatoa, yakni tidak saja ikut melestarikan produk budaya bangsa, melainkan ikut membantu membuka lapangan kerja bagi kaum perempuan di Cilegon. “Juga ikut berkontribusi dalam membangun pariwisata di Banten,” katanya simpel. Menurut Siti Nurbaeti (19), warga Cibeber, Kota Cilegon, ia mengaku senang bisa membatik. Selain bisa menggunakan waktu dengan bermanfaat, ia juga merasa bangga bisa membatik. “Satu baju batik yang dilakukan dengan mencanting itu memakan waktu satu minggu. Ketika baju batik itu jadi, bangga banget,” kata Siti yang mengaku sempat bingung bekerja setelah lulus SLTA. (**)
Tagged
Different Themes
Hj. Hany Seviantry

Pembina Sanggar Batik Krakatoa mengatakan, batik merupakan salah satu keariafan lokal yang harus dimiliki oleh masyarakat Cilegon. "Kata siapa wong Cilegon tidak punya batik, untuk itu sanggar batik ini kami dirikan sebagai salah satu budaya lokal yang akan kami perkenalkan kepada masyarakat"