Open top menu

Batik Krakatoa Cilegon telah hadir di Kota Cilegon selama lebih dari satu tahun, melalui pemberdayaan masyarakat Cilegon yang di bantu Yayasan Suara Hati Kita yang di ketuai oleh H Helldy Agustian, telah terbukti sudah banyak motif2 yg menceriterakan ttg Kearifan Lokal Cilegon - Banten. Seperti Motif : Sate Bebek,Godong Kestele, Godong Tangkil, Masjid Agung, Masjid Sumpah, Ani-ani, Gunung Krakatau, Trisula, Kue Engkak, Kue Gipang, Genteng, Brng Kuntul, Sumur Pitu, Golok, Menara Banten, Masjid Terapung Banten, Wuni, Bandrong, Badui, Kiamuk (Meriam), Sate Bebek, Rampak Bedug, Ule Lemah dll. Tempat sanggar saat ini di daerah Cibeber tepatnya di kelurahan kedaleman dari PCI sebelum Toyota blok Kiri,. Meski baru berdiri dua bulan lalu, sanggar yang berlokasi di Jalan Teuku Umar, Lingkungan Kalanganyar, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, ini selalu ramai oleh aktivitas membatik. M IBNU MARHAS – Cilegon Cuaca terik pada Rabu (26/3) siang di Kota Cilegon tak menyurutkan semangat gadis-gadis dan ibu-ibu yang sedang mencanting batik di Sanggar Batik Krakatoa. Sanggar yang kini menjadi magnet baru bagi warga Cibeber dan sekitarnya untuk belajar membatik. Mulai dari remaja, ibu rumah tangga, hingga nenek-nenek, belajar membatik di sanggar itu. Nurhayati (18), misalnya, pelajar salah satu SMA swasta di Kota Cilegon ini setiap hari sepulang sekolah ikut membatik di sanggar ini. Sebelumnya, ia dilatih selama dua pekan dan sudah bisa membatik secara profesional di atas kain. “Dulu, kalau pulang sekolah, langsung istirahat di rumah atau main sama teman. Sekarang, pulang sekolah langsung ke sanggar,” katanya. Demikian juga Nur Asia (17). Gadis putus sekolah yang semula menganggur, kini sudah punya kesibukan. Warga Lingkungan Kadipaten, Kelurahan Kedaleman, Kecamatan Cibeber, itu sudah mampu menghasilkan beberapa lembar kain batik. “Saya tidak menyangka bisa membatik seperti orang Jawa,” katanya. Berbeda dengan Jubaedah (50). Nenek satu cucu yang sebelumnya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga itu kini mulai meninggalkan pekerjaannya. Sejak sebulan lalu, ia memilih belajar membatik. “Sekarang, alhamdulillah, sudah bisa memegang canting dan mengukirnya secara rapi di atas kain,” katanya. Kemarin, pengurus sanggar membagikan batik kepada para perajin. Masing-masing perajin mendapatkan sehelai kain batik karyanya sendiri. Ini dilakukan agar perajin merasa bangga dan lebih menghargai hasil karyanya. “Nanti akan saya hadiahkan buat ibu saya di rumah,” kata Marsela, salah seorang perajin. Batik Krakatoa terbilang unik. Semua motifnya digambar dari kearifan lokal yang berkembang di Kota Cilegon. Sebut saja motif sate bebek Cibeber, ani-ani padi, godong kestela, kelotoh, Masjid Agung Nurul Ikhlas, trisula, kue engkak, Gunung Krakatau, kue gipang, serta sate bandeng. “Kami punya sekitar 40 motif lokal, tetapi yang baru digarap baru setengahnya,” kata pimpinan Sanggar Batik Krakatoa Hany Seviantry. Saat pelaksanaan MTQ XI Banten di Cilegon, 19 Maret sampai 23 Maret lalu, Sanggar Batik Krakatoa menjadi salah satu peserta pameran. Respons warga terhadap produk batik tersebut cukup positif. Terbukti, sebanyak 56 lembar kain berhasil terjual dalam pameran selama empat hari itu. “Untuk pemain baru, respons sebesar itu sudah cukup memuaskan,” kata Hany. Tak berhenti sampai di situ, kini Sanggar Batik Krakatoa, mulai kebanjiran order. Mulai dari pejabat kepolisian, perusahaan, instansi pemerintah hingga perhotelan. “Hotel-hotel di Kota Cilegon mulai melirik batik kami. Selama ini, mereka memang menjual batik, tetapi bukan dari Cilegon. Makanya, begitu tahu kalau Cilegon punya batik, mereka langsung memesan,” kata Hany yang enggan membeberkan omzet yang sudah didapat dari usahanya. Dibuatnya batik khas Cilegon, kata Hany, bermula dari kegemaran suaminya yang suka memakai batik. “Hampir setiap hari selama bekerja, suami saya memakai batik. Tetapi, lama-kelamaan dia berpikir, kenapa tidak ada motif batik khas Kota Cilegon,” kata istri dari Helldy Agustian ini Akhirnya pada awal Januari lalu, Sanggar Batik Krakatoa menggandeng Yayasan Suara Hati Kita. Sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan di Kota Cilegon pimpinan Helldy Agustian. Kedua lembaga itu memberikan pelatihan kepada warga secara gratis. “Awalnya, kita latih sebanyak 40 warga dari sekitar Cibeber. Sekarang sudah terseleksi menjadi setengahnya. Kami mendatangkan instruktur batik dari Cirebon sebagai salah satu daerah yang dikenal sebagai penghasil batik,” kata Hany. Kini, Sanggar Batik Krakatoa masih mengontrak sebuah rumah di Jalan Teuku Umar selama dua tahun ke depan. Ke depan, Hany ingin membangun sanggar permanen di lahan miliknya, masih di Kelurahan Kedaleman. “Saya lihat ke bisnis batik semakin prospektif. Selain membawa misi sosial dengan memberdayakan warga, kami juga ingin bisnis ini maju menyejahterakan masyarakat,” katanya. (*)
Tagged
Different Themes
Hj. Hany Seviantry

Pembina Sanggar Batik Krakatoa mengatakan, batik merupakan salah satu keariafan lokal yang harus dimiliki oleh masyarakat Cilegon. "Kata siapa wong Cilegon tidak punya batik, untuk itu sanggar batik ini kami dirikan sebagai salah satu budaya lokal yang akan kami perkenalkan kepada masyarakat"